INDAHNYA MUSHOLLAKU


Suara ayam jantan menusuk hatiku, makluk yang diseting memuji sang kholiq kala pertengahan malam dan ahir malam, sedang aku baru bangun melintasi pintu kamarku yang sudah tidak terkunci, karena mungkin ibuku yang mencoba membangunkanku, tapi aku masih enak dengan mimpi yang menari dialam tidurku.
Malam semakin indah, dengan rembualan yang memcoba hinggap dipohon asam tepat dipan rumahku,
“Cepat ambil udu’” suara yang tak asing terdengar oleh telingaku yang menghentikan aku berhenti melihat penadangan rembulan terselimuti oleh awan. sejuk, damai terasa dalam hati, ya itu pasti suara ibuku yang selalu memaksaku untuk sholat tahajut, “ya bu” dengan terpaksa aku menjawab perintah beliau.
Mulailah hawa dingin menggodaku untuk tidak ambil udu’, batuan kelikil seakan tidak mau aku injak hingga aku hampir jatuh kesungai, suara mualik ki waidi yang menjadi aliran waktu perjalananku dari aku siap-siap hingga menuju musholla ki saodah yang sudah tiga tahun silam wafat.
“Tempat suci, sandal jangan dinaikan” subuah tulisan yang menjadi tempat aku melihat mushollah ayaman bambu lengakap dengan lampu cilik yang hanya bisa menerangi mihrob dan al-Qur’an ki mazuqi ketika ngaji, oh ibu begitu teganya kamu selalu memaksaku untuk selalu sholat di musholla ini, suaraku dalam hati yang dilanjutkan dangan lakah kakiku ke keset yang berada di depan pintu, kugerak-gerakkan kaki karana takut ada sisa debu yang menimpel di kaki bekas perjalananku tadi, semakin aku langkah kaki menuju ke dalam musholla, hati ini semakin bertanya apa sebabnya ibu menyuruhku berjemaah ke sini setiap subuh, raga aku ada di sini tapi jiwaku ada di tempat tidur, oh ibu dengan keras aku mengucapkan hal hati memberontak kenapa ibu menyuruhku ke sini
Penuh sebal aku masih berdiri memandangi mihrop tempat kiyai marzuqi aku coba mencari tau apa yang menyebabkan dia betah bertahan disini, satu langakah ke depan akau menghamparkan sejadah, tepat di belakang dia mengaji, ku Tarik napas dengan huduk dan tawaduk ku angkatkan tangan, melambaikan kalimat takbir “Allahhu akbar”, innna sholati wanusuki wamahyaya wamamati lilllahi robbil” takbir dan doa iftitah tak membuat aku berhenti bertanya, kenapa aku selalu disuruh sholat bejemaah di sini, sekitar lima menit aku bertanya dalam hati kenapa aku selalu di suruh kesini sama ibu, hingga mengantarkan aku pada salam dari rokaatku yang menandakan aku sudah keluar dari sholat,
Fikiran aku masih berputar seperti tadi yang mencoba untuk tau kenapa aku disuruh ke musholla setiap akan melaksanakan sholat subuh, padahal aku masih lebih iklas sholat di rumah, dengan kagetnya aku di pegang sama orang tua, yang menandankan ingin bersalaman dengan aku, ku rundukkan kepala sedikit sambil menjalurkan tangan, lembut aku raih tangan beliau, ternyata adalah kyai Musa tidak pernah absen sholat shubuh, dengan sedikit terang pikiran melihat beliau masih mau ke mushola, walau dalam kekuatan sedikit, pandangi sekitar 3 memit dia sholat sunnah, dengan sedikit aku bisikkan kepada biliau “ ki boleh aku bertanya”  dengan sedikit terseyum dia menjawab pertanyaanku, “Mau tanya cu?” sedikit  mau aku mengucapkan pada beliau “kenapa kamu senanga sekali ke sini ki ?” ha ha ha tawa kakek tua yang mengingatkan aku pada aktor pemain flem ki sangkeng kelana, yang ingin mengajari muridnya ilmu kanuragan, dengan spontan aku bertanya pada beliau “kenapa ketawa ki?” hem aku jadi ingat masa selalu waktu aku seusia kamu.

Dengan panjan lebar dia menjelaskan masa lalunya, hingga aku sadar bahwa pagi adalah waktu bagi memuji bagi orang yang tau pada kebesaran tuhan, seperti burung mau berkicau akan bebesaran tuhan seperi ayam yang berkongkok demi memuji kebesaran tuhan, dan satu hal paling aku ingat dari kata-kata beliau bahwa, jadilah mahluk tuhan yang menjadi menghiasi pagi dengan zikir maka kamu akan jadi ayam yang tidak akan pernah rela meninggalkan pagi walau hanuya dengan sekejab mata.

You May Also Like

0 komentar

recent posts